BATANG, smpantura – Batik Rifaiyah kembali membawa nama Kabupaten Batang ke panggung internasional. Dua pegiat sekaligus perajin Batik Rifaiyah, Tri Handayani Mulyati dan Nandiroh, mendapat kesempatan memperkenalkan warisan budaya tersebut kepada masyarakat Australia melalui pameran dan workshop di Darwin, Australia, pada 16–28 Agustus kemarin.
Dalam kegiatan itu, keduanya tidak sekadar memamerkan kain batik. Sejumlah karya Batik Rifaiyah di bawa sebagai representasi kekayaan seni dan budaya Batang, lengkap dengan cerita, filosofi, nilai-nilai budaya, serta pengetahuan tradisional yang melekat dalam proses pembuatannya.
Tri Handayani Mulyati, perajin Batik Rifaiyah asal Gang Randu, Watesalit, mengatakan kesempatan tersebut menjadi pengalaman penting untuk memperkenalkan karakter Batik Rifaiyah kepada masyarakat internasional.
”Motif, ragam hias, serta proses pembuatannya menjadi bagian penting yang di perkenalkan kepada masyarakat Australia,” ujarnya, Senin (7/9).
Workshop
Tidak berhenti pada pameran, dalam kegiatan ini, Tri bersama Nandiroh juga terlibat langsung sebagai narasumber workshop membatik. Para peserta di perkenalkan dengan berbagai tahapan membatik, mulai dari mengenali motif, mengetahui alat dan bahan yang di gunakan, hingga mencoba proses membatik secara langsung.
Menurut Tri, kegiatan tersebut memiliki makna lebih luas daripada sekadar memperkenalkan karya seni. Workshop menjadi ruang pertukaran pengetahuan sekaligus sarana membangun hubungan budaya antara masyarakat Indonesia dan Australia. Batik Rifaiyah, lanjut dia, memiliki keunikan yang tidak hanya terlihat dari motif dan keindahan visualnya. Di balik proses pembuatannya terdapat nilai budaya, filosofi, dan sejarah yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Rifaiyah.



