Brebes  

Gus Bill, Senimal Mural Brebes Siap Luncurkan Karya Baru Matahati Bawang Merah di BMBF 2026

BREBES, smpantura — Senimal mural asal Brebes, Gus Bill siap meluncurkan karya barunya yang bertajuk Matahati Bawang Merah di ajang Bawang Merah Festival Brebes (BMBF) 2026. Ia mengangkat bawang merah karena menjadi komoditas yang lekat dengan kehidupan masyarakat Brebes. Bahkan, tidak hanya hadir sebagai hasil pertanian, tetapi menjadi kekuatan ekonomi daerah.

Performance mural di BMBF 2026 itu akan di gelar di Alun-Alun Brebes pada 11–13 September 2026, mulai pukul 07.00 WIB hingga selesai. Festival ini menjadi ruang pertemuan antara potensi pertanian, kreativitas, hiburan, masyarakat, serta kebanggaan terhadap identitas daerah.

Gus Bill mengaku, melalui Matahati Bawang Merah dirinya akan membawa bawang merah keluar dari pengertian yang semata-mata sebagai komoditas. Namun mengolahnya menjadi bahasa visual tentang tanah, petani, kerja keras, kehidupan, dan identitas Brebes. Bawang merah bukan sekadar objek yang di gambar di tembok. Dalam karya ini, bawang merah menjadi simbol tentang sebuah daerah yang tumbuh dari tangan-tangan masyarakatnya.

BACA JUGA :  Samsat Brebes Diserbu Warga di Hari Terakhir Program Pemutihan Pajak

“Karakter Matahati telah lama menjadi bagian dari perjalanan visual saya. Kali ini saya di pertemukan dengan karakter bawang merah. Pertemuan ini melahirkan karya yang mudah di kenali masyarakat, tetapi tetap membawa lapisan makna. Mata mengajak manusia untuk melihat. Hati mengajak manusia untuk merasakan. Sementara tangan dan kaki menjadi simbol bahwa kehidupan tidak cukup hanya di pikirkan, di kerjakan dan di jalani,” ungkap Gus Bill, Kamis (10/9/2026).

Pengingat

Menurut dia, dalam karya itu juga membawa pesan Ojo Dumeh. Yakni, sebuah pengingat sederhana agar manusia tidak mudah merasa paling tinggi ketika sedang berada di atas. Kehadiran Matahati Bawang Merah sekaligus memperluas wajah Bawang Merah Festival Brebes 2026. Artinya, festival tidak berhenti pada seremoni. Namun dapat menjadi panggung yang mempertemukan pertanian dengan seni, tradisi dengan kreativitas baru, serta potensi lokal dengan cara komunikasi yang lebih luas.