“Banyak pelajaran-pelajaran yang di berikan oleh beliau kepada kita semua bukan hanya kaum santri akan tetapi juga kaum nasionalis,” beber Gus Yasin.
Dia mencontohkan, berbagai permasalahan-permasalahan di negara ini, oleh Mbah Meimoen, bukan hanya di pandang dari segi syariat. Akan tetapi, oleh beliau di jabarkan. Termasuk memberikan masukan kepada pemerintah, dalam hal perekonomian.
Contoh
Gus Yasin mengambil contoh saat Mbah Maimoen memberikan saran tentang permasalahan sampah. Sesuai syariat Islam, kebersihan adalah sebagian dari iman. Mbah Maimoen pun memberikan saran agar sampah di kelola dengan baik, sehingga memberikan manfaat untuk umat.
“Sesuai yang di sarankan oleh Mbah Maimoen, perusahaan yang dulu hampir di jual oleh pemerintah, oleh negara saat ini menjadi salah satu yang bisa menangani sampah yaitu pabrik semen,” urainya.
Sehingga, pada tahun 2003 hingga 2004, perusahaan semen tersebut hampir di lepas oleh pemerintah. Sesuai nasehat Mbah Maimoen, pabrik tersebut tidak jadi di lepas, sehingga sampai saat ini masih berjalan dengan baik dan menjadi pengelola sampah yang memberikan manfaat.
“Kita memang butuh sosok-sosok bukan memandang pada hari ini bukan hanya memandang kebutuhan hari ini. Akan tetapi juga bisa memberikan pandangan-pandangan yang lebih jauh, lebih panjang. Inilah sosok Kiai Maimun yang pada malam hari ini kita ketahui,” lanjutnya.
Pada saat ini, kata Gus Yasin, sejumlah pabrik semen di berbagai daerah turut menangani permasalahan sampah. Sampah tersebut di kelola sebagai bahan bakar alternatif. Pabrik Pemanfaatan ini antara lain sudah di lakukan di Rembang, dan Magelang, dan akan menyusul kabupaten yang lain.



