SLAWI, smpantura – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tegal mengusulkan kawasan Monumen Gerakan Banteng Nusantara (GBN) sebagai Zona Literasi.
Langkah ini bertujuan memperkuat fungsi ruang publik tersebut sebagai area kreatif berbasis literasi.
Rencana tersebut di sampaikan oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tegal, Teguh Mulyadi, di ruang kerjanya pada Selasa (11/8) siang.
Teguh menilai kawasan Monumen GBN sangat layak di kembangkan menjadi Zona Literasi. Wilayah ini mencakup Bundaran Tugu Poci, Masjid Agung Kabupaten Tegal, Perpustakaan Soekarno-Hatta, Museum Sekolah, serta di dukung sejumlah sarana pendidikan seperti kampus STKIP NU.
Selain berlokasi strategis, kawasan ini memiliki aksesibilitas tinggi dan selalu ramai di kunjungi warga, terutama saat akhir pekan. Saat ini, pemanfaatan kawasan GBN masih di dominasi oleh sektor kuliner dan kegiatan keagamaan.
Melalui konsep Eco-Smart Literacy Park, Disperpusip ingin memperluas fungsi ruang dengan mengintegrasikan konsep tata ruang terbuka. Dan akses literasi gratis yang nyaman serta kekinian tanpa merusak estetika kawasan.
“Penetapan zona literasi ini akan memperkuat fungsi ruang publik kawasan GBN sebagai tempat diskusi masyarakat, pojok baca digital, dan lapak baca gratis. Serta wadah kegiatan komunitas literasi,” ujar Teguh.
Ia menambahkan, program Smart Pojok Baca akan menyediakan gazebo modern yang di lengkapi rak buku fisik (buku populer, anak, dan keluarga). Serta fasilitas Wi-Fi gratis untuk mengakses koleksi digital Perpustakaan Soetta.
Disperpusip juga berencana menggandeng pelaku usaha kafe di radius zona tersebut untuk menyediakan pojok buku fisik. Nantinya, Monumen GBN di proyeksikan menjadi Literacy Hub and Creative Space.



