Logika vs Emosi : Peran Persuasi dalam Pilpres 2024

Oleh Hesti Widianti, Dosen Politeknik Harapan Bersama, Mahasiswa PDIM Universitas Islam Sultan Agung

Ketika kita memasuki masa kampanye pemilihan presiden dan wakil presiden, kita sering kali disuguhkan dengan berbagai pesan dan narasi yang dirancang untuk mempengaruhi pandangan dan keputusan kita sebagai pemilih.

Di balik kampanye yang penuh warna dan penuh semangat ini, terdapat dua kekuatan besar yang seringkali bertentangan dengan logika dan emosi.

Bagaimana kedua kekuatan ini memainkan peran dalam meyakinkan pemilih, dan apa dampaknya pada proses pemilihan?

Mari kita telusuri lebih dalam peran persuasi yang dimainkan oleh logika dan emosi dalam konteks pemilihan presiden dan wakil presiden.

Debat calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) sangat penting dalam proses Pemilihan Umum, karena memberikan kesempatan kepada para calon untuk berbicara langsung kepada pemilih.

BACA JUGA :  Antara Layar dan Lapangan

Melalui debat, para calon dapat menyampaikan argumen, rencana kebijakan, dan visi mereka kepada pemilih, sehingga memungkinkan pemilih untuk mendengarkan dan mempertimbangkan secara langsung.

Debat juga memungkinkan pemilih untuk melihat bagaimana capres dan cawapres berinteraksi satu sama lain, menanggapi pertanyaan dan menyoroti perbedaan pendapat.

Hal ini memungkinkan pemilih untuk membentuk pemahaman yang lebih baik tentang karakter, kepemimpinan dan kemampuan capres dan cawapres.

Selain itu, debat juga memberikan kesempatan bagi pemilih untuk melihat bagaimana capres dan cawapres merespons isu-isu penting yang sedang dihadapi oleh negara.

Ini memungkinkan pemilih untuk mempertimbangkan secara kritis, bagaimana rencana kebijakan dan solusi yang diajukan oleh setiap calon akan memengaruhi kehidupan mereka dan masyarakat secara keseluruhan.

error: