Masjid Nurul Jamal, Saksi Sejarah Perlawanan KH Ahmad Rifa’i

SAKSI SEJARAH: Masjid Nurul Jamal di Desa Kalisalak, Limpung, Kabupaten Batang menjadi saksi sejarah perjuangan kolonialisme yang dilakukan pahlawan nasional KH Ahmad Rifa'i.

BATANG, smpantura – Di Desa Kalisalak, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, berdiri sebuah masjid yang hingga kini tetap menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat. Dari luar, Masjid Nurul Jamal tampak sederhana. Namun, di balik dinding dan ruang salatnya tersimpan kisah panjang tentang dakwah, pendidikan Islam, dan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda yang di pimpin oleh pahlawan nasional KH Ahmad Rifa’i.

Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah. Dalam sejarah perkembangan Rifa’iyah, Masjid Nurul Jamal di kenal sebagai salah satu pusat dakwah yang menjadi ruang pembinaan masyarakat dan penyebaran ajaran Islam yang di kembangkan KH Ahmad Rifa’i di Kalisalak. Dari kawasan inilah lahir gerakan keagamaan yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama. Tetapi juga membangkitkan kesadaran masyarakat untuk menolak ketidakadilan pemerintahan kolonial Belanda.

Kades Kalisalak, Setiadi mengatakan, berdasarkan pitutur dan informasi yang di dapatkannya, Masjid Nurul Jamal di perkirakan di bangun sekitar tahun 1410 M.

BACA JUGA :  Tari Kuntulan Strategi Pangeran Diponegoro Kelabuhi Belanda

”Pembangunan masjid ini pertama kali di lakukan oleh seorang ulama bernama Mbah Nurul Jamal untuk menyebarkan agama Islam. Nurul Jamal itu nama pendiri masjid ini,” ujarnya, Minggu (2/8).

Strategi

Setelah itu di sekitar tahun 1460, pengelolaan masjid di lakukan oleh Syaikh Qidam Muhammad datang dari Keraton Sumedang Larang, Cirebon. Itu di buktikan dengan mustaka Masjid Nurul Jamal itu seperti mahkota binokasih Keraton Sumedang Larang. Selain untuk berdakwah, kedatangan Syaikh Qidam Muhammad, juga sebagai bentuk strategi perang melawan VOC Belanda. Ini karena dulu Kalisalak dan daerah sekitar Alas Roban adalah pusat strategi melawan VOC sekaligus pusat logistik. Berdasarkan arsip sejarah yang ada di Pekalongan, tutur Setiadi, wilayah Kalisalak dulu berupa kawedanan dan di pimpin oleh wedana.