Aik dari NKSTHI mengatakan, kolaborasi tersebut berangkat dari semangat yang sama, yakni menerima berbagai persoalan yang memang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sembari mencari cara yang lebih menyenangkan untuk meresponsnya.
“Dari situlah kami mencoba membawa sambat menjadi bagian dari pengalaman Live Project tahun ini,” katanya.
Konsep tersebut sekaligus diharapkan menjadi ruang stress release bagi pengunjung sebelum maupun saat menikmati rangkaian pertunjukan musik.
Di luar konsep kreatif, penyelenggara menargetkan peningkatan kualitas teknis dan operasional. Evaluasi dari penyelenggaraan sebelumnya diterjemahkan ke sejumlah aspek, mulai dari pengelolaan arus pengunjung, kenyamanan fasilitas, crowd management, hingga sistem penataan suara.
Adi mengatakan, Live Project tidak ingin hanya berkembang dari sisi jumlah penonton maupun skala acara. Festival tersebut juga ditargetkan semakin matang dalam memberikan pengalaman yang aman, nyaman, dan berkesan.
“Bagi kami, setiap evaluasi harus diterjemahkan menjadi langkah nyata, setiap masukan menjadi bagian dari pembelajaran, dan setiap pembaruan menjadi bentuk komitmen kami untuk terus bertumbuh bersama audiens,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Adam. Menurut dia, Live Project memiliki peluang untuk berkembang menjadi agenda musik tahunan yang dinantikan masyarakat Semarang.
“Kami melihat Live Project punya potensi menjadi salah satu momen yang harus dinantikan setiap tahun. Harapannya, penonton bisa datang, menikmati konser dengan nyaman, dan pulang membawa pengalaman yang menyenangkan,” katanya.
Sejak pertama kali digelar pada 2022, Live Project terus berkembang sebagai salah satu festival musik tahunan di Semarang. Pada edisi keempat ini, penyelenggara tidak hanya menjual pertunjukan musik, tetapi mencoba membangun pengalaman yang lebih utuh—mulai dari “sambat”, berinteraksi, menikmati musik, hingga pulang dengan pengalaman yang berkesan.



