Kondisinya kemudian semakin memburuk. Saat hendak di bawa kembali ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis, korban meninggal dunia.
Diah bersama suaminya, Nurwandi (43), mengaku kecewa terhadap sikap pihak sekolah yang menurut mereka belum memberikan kejelasan terkait dugaan perundungan yang di alami anaknya.
Keluarga korban bahkan sempat mendatangi pihak sekolah untuk meminta penjelasan mengenai kejadian yang di alami MHAQ.
Namun, menurut Diah, belum ada upaya untuk mempertemukan keluarga korban dengan orang tua anak yang di duga terlibat dalam kejadian tersebut guna membicarakan persoalan tersebut.
Keluarga berharap persoalan itu dapat di selesaikan dan kondisi mental anak mereka dapat di pulihkan setelah mengalami dugaan perundungan.
“Anak saya itu sebelum meninggal sudah ngomong siapa-siapa yang mukul dia, di lihatin foto terus dia nunjuk. Ada tiga anak, yang dua kelas 5 dan satu kelas 6,” imbuh Nurwandi.
Kini, keluarga berharap kepolisian dapat segera mengungkap dugaan kekerasan atau perundungan yang di alami MHAQ. Mereka juga berharap proses hukum dapat memberikan kejelasan dan keadilan bagi korban.
Saat ini, jenazah MHAQ tengah menjalani autopsi di RSUD dr M Ashari Pemalang. Autopsi di lakukan untuk mengetahui secara medis penyebab kematian serta kondisi yang di alami korban sebelum meninggal dunia. (**)



