Pasar Imlek Semawis Jadi Gambaran Keberagaman dan Toleransi Masyarakat

Panitia turut mengimbau pengunjung mengenakan kebaya sebagai simbol akulturasi budaya. “Memang belum banyak, tapi sudah mulai terlihat ada yang mengenakan kebaya,” kata Harjanto.

Keberagaman di kawasan Pecinan, lanjut dia, telah lama menjadi potret harmoni sosial. Ia mencontohkan warung nasi ayam milik Bu Pini, warga etnis Jawa yang berdagang di kawasan tersebut hingga mampu membeli ruko sendiri.

“Beliau Jawa dan bisa bersaing di Pecinan. Kalau rasanya enak dan harganya masuk akal, pasti laku. Itu bukti bahwa kawasan ini terbuka untuk siapa saja,” tuturnya.

Gibran dan Ahmad Luthfi tampak menikmati suasana perayaan. Keduanya berbaur dengan pengunjung, menyapa pedagang, serta melayani permintaan swafoto. Wapres juga terlihat berbelanja di sejumlah tenant UMKM.

Harjanto menyampaikan, Wapres mengapresiasi penyelenggaraan Pasar Imlek Semawis yang di nilai mampu menghidupkan ekonomi rakyat sekaligus menjaga tradisi. “Pesan Beliau, tradisi yang sudah berjalan seperti ini harus dirawat agar tidak hilang,” ujarnya.

BACA JUGA :  Pelatihan Gratis dari Pemprov Jateng, Hampir Seluruh Lulusan Langsung Terserap Industri

Sementara itu, Ahmad Luthfi menegaskan pentingnya melestarikan tradisi yang telah mengakar di masyarakat. Ia menyatakan dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terhadap rangkaian perayaan Imlek, termasuk kegiatan di Kelenteng Sam Poo Kong.

Menurut Gubernur, banyaknya agenda budaya yang di gelar akan berdampak positif terhadap sektor pariwisata dan perekonomian daerah. Selain itu, perayaan tersebut menjadi ruang ekspresi toleransi dan kebersamaan masyarakat Jawa Tengah.

“Masyarakat sangat antusias. Ini bukan hanya peringatan Imlek, tetapi juga memperkuat kebersamaan. Pemerintah provinsi sangat mendukung kegiatan seperti ini,” ujarnya.