SEMARANG, smpantura – Keberhasilan Kabupaten Demak dan Semarang dalam menurunkan prevalensi stunting hingga sekitar 2 persen akan di jadikan acuan bagi daerah lain di Jawa Tengah untuk mempercepat upaya penurunan stunting.
Bahkan, apa yang telah di lakukan dua daerah tersebut akan di tiru dan di jadikan menjadi model ke berbagai daerah di Indonesia untuk mempercepat penurunan stunting.
Deputi Bidang Peningkatan Kesejahteraan dan Pembangunan Sumber Daya Manusia Setwapres, Eddy Cahyono Sugiarto, mengatakan, prevalensi stunting nasional saat ini berada di angka 19,8 persen. Pemerintah menargetkan angka tersebut turun menjadi 14-15 persen pada 2029.
Menurut Eddy, pencapaian target tersebut membutuhkan komitmen kepala daerah dan kerja lintas sektor. Sebab, ujarnya, persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan asupan gizi, tetapi juga sanitasi, lingkungan, infrastruktur, serta kondisi sosial keluarga.
Ia mengapresiasi dan mengacungi jempol Pemkab Demak dan Kabupaten Semarang dalam menurunkan stunting. Hal itu dapat menjadi pembelajaran bagi daerah lain, kata Eddy, usai Rapat Koordinasi Teknis dan Advokasi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Regional Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara di Hotel Novotel, Kota Semarang, Selasa (22/9/2026).
“Tadi juga ada good lessons dari dua kabupaten yang akan kami replika untuk di tiru di daerah lain. Tidak hanya regional Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, tetapi seluruh Indonesia. Semoga apa yang sudah di lakukan Jawa Tengah ini bisa menjadi trigger daerah lain melakukan langkah serupa,” ungkap Eddy.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, meminta daerah dengan prevalensi tinggi tidak bekerja sendiri. Tetapi belajar dan mereplikasi praktik dari Demak dan Kabupaten Semarang dengan intervensi lintas sektor.



