Projo Transformasi ke Partai, Sekarang Atau Tidak Sama Sekali

- Kekuatan Politik Mandiri Menuju 2029

FOTO: Rojik AR, Ketua Projo Kabupaten Tegal.
  • Oleh : Rojik AR, Ketua Projo Kabupaten Tegal

smpantura – Projo berada pada sebuah persimpangan penting. Lahir sebagai gerakan relawan pada 2013, Projo kemudian berkembang menjadi organisasi dengan jaringan politik nasional. Perjalanan panjang tersebut membuat Projo memiliki pengalaman yang tidak di miliki banyak organisasi masyarakat. Projo terlibat dalam tiga kontestasi Pilpres 2014, 2019, dan 2024.

Tiga kemenangan politik tersebut bukan berarti Projo seorang diri memenangkan Pilpres. Namun, pengalaman berada dalam tiga momentum pemenangan nasional menunjukkan bahwa Projo memiliki jaringan, kemampuan mobilisasi, pengalaman politik, dan kapasitas adaptasi yang menjadi modal penting untuk melangkah lebih jauh.

Di sinilah paradoksnya. Projo telah tiga kali berada dalam arena pemenangan Pilpres, tetapi belum pernah bertarung sebagai kekuatan politik dengan kendaraan sendiri.

Maka pertanyaan strategisnya bukan sekadar “siapa yang akan di dukung Projo pada 2029?” . Melainkan, “Apakah Projo akan terus menjadi king maker, atau mulai membangun kekuatan politik yang mampu menjadi pemain sekaligus melahirkan pemimpin sendiri?”

BACA JUGA :  Slentheng, Jamus Kalimasada, dan Iqro: Catatan tentang Sepinya Perpustakaan Daerah

Modal Politik Sudah Ada, Tinggal Dilembagakan

Jika transformasi menjadi partai suatu hari di putuskan, Projo tidak memulai dari nol. Modal sosial dan politik telah tersedia: jaringan nasional, pengalaman organisasi, kemampuan komunikasi publik, pengalaman memenangkan kontestasi, serta sumber daya manusia yang telah terbentuk selama lebih dari satu dekade. Tetapi modal tersebut harus di konversikan menjadi kekuatan elektoral yang terukur. Sebab jaringan tidak otomatis menjadi suara. Popularitas tidak otomatis menjadi elektabilitas. Struktur tidak otomatis menjadi mesin politik, dan banyak anggota tidak otomatis berarti banyak kader.