Ahmad Luthfi menegaskan, pengembangan kapasitas santri tidak boleh berhenti pada program provinsi. Ia meminta seluruh pemerintah kabupaten/kota di Jawa Tengah ikut mengambil bagian agar pemberdayaan pesantren dapat menjangkau lebih banyak santri.
Menurutnya, pada tahun ini baru 942 santri dan pengasuh pondok pesantren yang mengikuti seleksi program beasiswa. Jumlah tersebut masih sangat kecil di bandingkan lebih dari 5.000 santri yang tercatat di Jawa Tengah.
“Ini masih kurang dan harus di jadikan role model, sehingga tidak hanya provinsi yang bergerak. Tetapi kabupaten/kota nanti kita ikut sertakan sehingga pemberdayaan pesantren ini bisa menyeluruh,” tegasnya.
Kekuatan
Langkah tersebut di nilai penting agar pesantren tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan. Tetapi juga menjadi salah satu kekuatan utama yang menghasilkan sumber daya manusia unggul dari Jawa Tengah.
Dalam kesempatan yang sama, Pemprov Jateng menandatangani kesepahaman bersama dengan 24 Ma’had Aly, yakni lembaga pendidikan tinggi berbasis pesantren yang memiliki kedudukan setara perguruan tinggi.
Ahmad Luthfi mengatakan, kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pendidikan pesantren. Sekaligus memastikan program pemberdayaan berjalan dengan mekanisme yang jelas.
“MoU ini merupakan mekanisme yang harus kita jalankan. Karena kinerja berbasis anggaran tidak bisa sembarangan,” katanya.
Sementara itu, salah satu penerima beasiswa, Akhmad Khafidz Al Mubarok, bersyukur mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan S1 bidang Computer Science and Technology di Dalian University of Technology, Cina.



