TEGAL, smpantura – Upaya meningkatkan literasi masyarakat, dilakukan cukup menarik oleh dosen dan mahasiswa Universitas Pancasakti (UPS) Tegal, yang tergabung dalam Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) Hibah BIMA 2026.
Tim tersebut secara khusus menggembleng anak-anak dari komunitas Oemah Baca Warna Warni, Desa Pegirikan, Kabupaten Tegal, dengan literasi multibahasa. Yakni, dengan Bahasa Jawa Tegalan, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, dengan platform media cetak dan digital, berupa penyusunan buku cerita legenda dalam tiga bahasa itu.
Kemudian selain pelatihan untuk anak-anak, tim pengabdian juga menyelenggarakan pelatihan pengelolaan kanal digital bagi pengurus komunitas. Materi pelatihan meliputi teknik dasar pembuatan konten, pengambilan gambar (Foto) dan video, penyuntingan sederhana menggunakan perangkat digital, serta strategi publikasi konten di media sosial.
”Dari hasil atau luaran pelatihan ini, peserta berhasil menghasilkan empat cerita pendek dalam tiga bahasa yang di susun berdasarkan cerita rakyat Kabupaten Tegal. Yaitu, Legenda Mbah Giri, Asal Usul Nama Slawi, Legenda Ki Gede Sebayu, dan Asal-Usul Nama Guci,” terang Ketua Tim Abdimas Hibah BIMA 2026 UPS Tegal, Anin Eka Sulistyawati.
Kegiatan yang di gelar tiap hari Minggu, sejak pekan pertama bulan Juni (7/6) hingga pekan terakhir Juli (26/7), menurut Anin Eka Sulisyawati, sebagai bagian dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM). Kegiatan itu berfokus pada penguatan literasi anak, dan peningkatan kapasitas digital pengurus komunitas rumah baca.
Anin menjelaskan, pelatihan atau penggemblengan itu di laksanakan dalam dua fokus kegiatan utama. Pertama kegiatan bertajuk ”Pelatihan Literasi Multibahasa”, dengan sasaran anak-anak anggota komunitas Oemah Baca Warna Warni.
Kemudian kegiatan bernama ”Pelatihan Pengelolaan Kanal Digital”. Pelatihan tersebut khusus di berikan bagi pengurus komunitas. Itu sebagai upaya memperkuat keberlanjutan pengelolaan media informasi dan publikasi kegiatan literasi.
Pendampingan
Untuk pelatihan literasi multibahasa, kata Anin, anak-anak dari komunitas tersebut, di lakukan pendampingan dalam pengembangan keterampilan membaca, menulis, dan bercerita melalui pendekatan kreatif berbasis budaya lokal.
Kegiatan tersebut mengintegrasikan penggunaan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Jawa Tegalan. Dengan tujuan anak-anak tidak hanya belajar bahasa asing. Tetapi juga memperkuat identitas budaya daerah.



