TEGAL, smpantura – Telur asin yang tidak memenuhi standar produksi, ternyata masih bisa memberikan keuntungan. Enam pelaku UMKM di Kabupaten Brebes, mendapat pendampingan untuk mengolah telur asin gagal menjadi salted egg crackers, camilan yang di targetkan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Pendampingan tersebut di lakukan tim dosen Universitas Harkat Negeri Tegal, melalui program Hibah Diktisaintek Berdampak pada Juni hingga Juli 2026. Kegiatan melibatkan UMKM Eni Jaya Telur Asin di Kelurahan Limbangan Wetan, Brebes, serta sejumlah pelaku usaha yang bergerak di sektor telur asin dan makanan khas daerah.
Tim pengabdian terdiri atas Dewi Kartika dan Puput Dewi Anggraeni dari Universitas Harkat Negeri. Mereka bersama Adi Kuntoro dari Universitas Negeri Semarang.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Dewi Kartika menjelaskan, pemanfaatan telur asin gagal menjadi salted egg crackers berangkat dari keinginan mencari alternatif pengolahan bahan yang berpotensi terbuang. Gagasan tersebut juga terinspirasi dari produk crackers berbahan telur yang di temuinya di swalayan Singapura.
“Saya terinspirasi setelah melihat produk crackers berbahan dasar telur yang di pasarkan di swalayan di Singapura. Dari sana kami melihat bahwa telur asin yang gagal produksi memiliki potensi besar untuk di kembangkan menjadi cemilan bernilai ekonomi tinggi,” kata Dewi, Sabtu 15 Agustus 2026.
Dewi mengatakan, pendampingan tidak hanya berfokus pada bagaimana membuat produk olahan baru. Pelaku UMKM juga di berikan bekal untuk mengembangkan produk agar lebih siap dipasarkan.
“Melalui program ini, kami ingin menunjukkan bahwa inovasi tidak berhenti pada penciptaan produk baru. Tetapi juga harus di dukung dengan penguatan branding, desain kemasan, strategi pemasaran,dan pengelolaan keuangan,” ujar Dewi.
Gagal Produksi
Dalam pelatihan produksi, pelaku UMKM di ajak mempraktikkan langsung pembuatan salted egg crackers. Nara sumber pelatihan, Hans Hera Amalia mengatakan, telur asin yang gagal produksi tidak selalu berarti sudah tidak memiliki manfaat ekonomi. Dengan pengolahan yang sesuai, bahan tersebut masih dapat di kembangkan menjadi produk pangan baru.



