smpantura – Gerhana bulan tidak pernah datang sembarangan. Ia hanya terjadi saat bulan purnama, ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus. Dalam kalender Hijriyah, fase ini selalu berada di pertengahan bulan, sekitar tanggal 14 atau 15.
Ketika gerhana bulan total terjadi, sementara sebagian umat menghitungnya sebagai tanggal 14 Ramadhan, muncul satu pertanyaan mendasar: siapa yang paling presisi dalam menetapkan awal bulan?
Di Indonesia, Muhammadiyah sejak lama menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal. Metode ini berbasis perhitungan astronomi yang presisi, bukan sekadar kemungkinan visual. Dalam sistem ini, awal bulan ditetapkan melalui kalkulasi posisi bulan yang dapat di hitung hingga detik.
Hasilnya? Ketika gerhana datang tepat di pertengahan Ramadhan menurut hitungan Muhammadiyah, itu bukan kebetulan. Itu konsistensi.
Sebaliknya, pendekatan rukyat yang di gunakan oleh Nahdlatul Ulama dan pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia tetap memiliki ruang subjektivitas pengamatan dan faktor cuaca. Tidak jarang terjadi perbedaan satu hari karena hilal tidak terlihat, meskipun secara astronomi sudah memenuhi kriteria.
Ilmu falak modern hari ini bukan lagi asumsi. Ia adalah sains presisi. Gerhana bulan adalah peristiwa astronomis yang bisa di prediksi ratusan tahun sebelumnya dengan akurasi tinggi. Jika fase purnama jatuh tepat pada hitungan Ramadhan ke-14 versi Muhammadiyah, maka itu menjadi bukti bahwa pendekatan hisab bukan sekadar pilihan, melainkan keniscayaan ilmiah.
Bukan soal menang atau kalah. Ini soal konsistensi metodologi.
Dalam era sains dan teknologi, sudah saatnya umat Islam memandang hisab bukan sebagai alternatif, tetapi sebagai pijakan utama. Dan dalam konteks ini, Muhammadiyah menunjukkan bahwa agama dan ilmu pengetahuan bisa berjalan beriringan tanpa perlu di pertentangkan.


