SLAWI, smpantura – Arkeolog UI teliti Candi Gong di Desa Sidamulya, Kecamatan Pagerbarang, Kabupaten Tegal, baru-baru ini. Candi Gong peninggalan masa peradaban Hindu-Buddha itu, bisa di kembangkan menjadi wisata religi.
Penelitian terhadap situs ini pernah di lakukan pada tahun 2008 oleh sejumlah arkeolog dan peneliti sejarah. Dari penelitian tersebut di temukan beberapa artefak penting, seperti batu bata berukir dan arca. Sebagian artefak kini di simpan di museum sekolah di Slawi untuk menjaga kelestariannya.
Penggiat Sejarah dan Pelestari Situs Budaya di Kabupaten Tegal, Slamet Haryanto atau yang akrab di sapa Slamet Gelang mengatakan, nama Candi Gong sendiri berasal dari cerita turun-temurun masyarakat. Konon, warga pernah mendengar suara gong yang seolah mengiringi alunan gamelan dari sekitar lokasi candi. Cerita itulah yang kemudian melekat dan menjadi penamaan situs tersebut hingga sekarang.
“Salah satu temuan menarik di lokasi ini adalah Yoni, simbol penting dalam tradisi Hindu, yang di temukan berada di bagian atas struktur bata,” kata Slamet.
Di jelaskan, Yoni berukuran sekitar 30 sentimeter panjang, 20 sentimeter lebar, dan memiliki ketebalan sekitar 8 sentimeter. Keberadaan yoni ini menguatkan dugaan bahwa tempat tersebut dahulu di gunakan sebagai lokasi ritual keagamaan. Kondisi struktur candi masih bisa di kenali meski sebagian telah terkikis waktu.
“Baru-baru ini, Prof Agus Aris Munandar, Guru Besar Arkeologi dan Ilmu Budaya dari Universitas Indonesia (UI) melakukan survei terhadap beberapa jejak situs candi di wilayah Kabupaten Tegal,” jelasnya.
Lebih lanjut di katakan, total ada empat titik yang di survei, yaitu Candi Gong di Desa Sidamulya, Candi Asu di Selapura, Candi Bulus di Pedagangan, dan Candi Kesuben. Dari keempat lokasi tersebut, Candi Gong di nilai sebagai situs yang paling memungkinkan untuk di lakukan restorasi karena struktur utamanya masih relatif terlihat.


