Di daerah pegunungan ini, pasukan Amangkurat II sampai di suatu tempat yang terdapat mata air. Mata air ini mengalirkan air begitu banyak dan jemih. Air yang keluar tidak mengenal musim sehingga debit air selalu besar dan tidak pernah berkurang. Pasukan Amangkurat II ini kemudian melepaskan lelah dan mandi di mata air ini. Mandi dalam bahasa Jawa di sebut Siram. Karena air yang mengalir tanpa henti, dalam bahasa Jawa berarti Ora Pog-pog. Di ambillah kata terakhimya yaitu pog. Kedua kata siram dan pog di rangkai menjadi sirampog. Jadilah nama Sirampog, yang artinya mandi di tempat dengan air yang tidak pemah terhenti. Letak mata air ini berada di Desa Kaligiri. Bahkan, mata air ini sekarang telah menjadi sumber air bersih yang di kelola PDAB Jateng.
Versi Kedua
Versi kedua asal mula nama Sirampog, berkaitkan dengan kisah salah satu istri prajurit Amangkurat
II. Istri salah seorang prajurit yang ikut melarikan diri bersama Amangkurat II sedang hamil tua dan melahirkan. Setelah agak besar, anak tersebut terkena penyakit. Meskipun sudah di obati di beberapa tabib, penyakitnya tidak kunjung sembuh. Akhirnya, sang anak pun meninggal dunia. Anak ini di makamkan di Desa Krajan yang terdapat candi. Candi tersebut kemudian di namakan Candi Mas Cilik. Konon sebelum di semayamkan, anak ini di mandikan di pemandian sebagai mandi terakhir. Kata mandi ini dalam Bahasa Jawa berarti Siram, dan kata berakhir berarti Pog. Kedua kata ini di rangkai, Sirampog, yang artinya menjadi mandi terakhir atau mandinya orang mati. (**)


