BATANG, smpantura – Kabupaten Batang kini menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan limbah. Berdasarkan data di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Batang, produksi sampah harian di wilayah ini telah menyentuh angka 185 ton.
Kondisi tersebut membuat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Randukuning kian terbebani dan terancam mengalami overload jika tidak ada langkah pengendalian yang masif dari masyarakat. Kepala DLH Batang, Rusmanto, perlu ada perubahan perilaku konsumsi dan pembuangan limbah oleh masyarakat.
Menurutnya, tanpa kepedulian bersama, Batang berisiko menghadapi krisis lingkungan yang berdampak pada kesehatan dan bencana banjir.
”Produksi sampah kita sekitar 185 ton per hari. Ini perlu kepedulian bersama agar volumenya bisa di kendalikan. Pemilahan sampah dari sumbernya, yaitu rumah tangga, menjadi langkah penting untuk mengatasi overkapasitas TPA,” ujarnya, baru-baru ini.
Rusmanto mengungkapkan kekecewaannya terhadap rendahnya kedisiplinan sebagian oknum warga. Ia mencontohkan, kondisi di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Pasekaran. Meski papan larangan dan instruksi sudah terpasang jelas, banyak warga yang membuang sampah sambil melintas di atas kendaraan, sehingga limbah berserakan hingga ke bahu jalan.
”Padahal sudah ada papan pemberitahuan. Tapi banyak warga yang melintas justru melempar sampah dari kendaraan tanpa memasukkannya ke dalam area TPS. Sampah akhirnya berserakan hingga ke bahu jalan,” ucapnya.
Rusmanto menjelaskan, untuk mengefektifkan pengangkutan, DLH Batang mengimbau masyarakat untuk mematuhi jam operasional pembuangan sampah, yakni antara pukul 16.00 hingga 06.00 WIB. Dengan mematuhi jadwal ini, sampah dapat langsung di angkut oleh petugas yang mulai menyisir lokasi pada pukul 07.00 WIB, sehingga tidak ada tumpukan yang membusuk di siang hari.


