DEMAK, smpantura – Untuk memasuki rumah Noryatin (58), orang harus menunduk cukup dalam. Bukan karena sopan santun, melainkan karena atap rumah warga Dukuh Kongsi, Desa Purworejo, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak itu kini hanya berjarak sekitar satu meter dari permukaan jalan. Lantai rumahnya terus ditinggikan dengan urugan tanah akibat kepungan air rob.
Kondisi memprihatinkan tersebut menjadi keseharian Noryatin bersama suaminya yang kehilangan pekerjaan sejak terkena PHK saat pandemi COVID-19, serta dua anak mereka.
Selama tiga tahun terakhir, keluarga ini hidup di tengah genangan rob yang datang tanpa mengenal waktu. Rumah berukuran 5×12 meter itu seakan tenggelam, terdesak oleh peninggian jalan dan naiknya air laut.
Agar ruang tamu dan kamar tetap kering, mereka harus menyalakan mesin pompa air yang bekerja tanpa henti selama 24 jam.
“Pompa nyala terus 24 jam. Kalau airnya besar, pakai mesin yang lebih gede lagi. Pintu masuk juga saya bendung pakai papan, dan tumpukan bata hebel,” tutur Noryatin dengan nada lirih, Kamis, 12 Maret 2026.
Meski sudah dibendung dan dipompa, rembesan air tetap muncul di sela-sela lantai dan dinding. Dampaknya nyata bagi kesehatan keluarga berupa serangan nyamuk yang masif dan rasa gatal di kulit akibat kelembapan yang ekstrem.
“Nyamuknya banyak, gatal,” katanya.
Namun, awan mendung di kehidupan Noryatin sedikit tersingkap saat Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, datang ke rumahnya, Kamis 12 Maret 2026.
Kehadiran tokoh yang akrab disapa Gus Yasin ini bukan sekadar meninjau. Melainkan membawa bantuan rehab Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) senilai Rp 20 juta.


