PEMALANG, smpantura – Akibat kondisi ekstrem di Laut Jawa sejak dua bulan terakhir mengakibatkan penjualan solar bersubsidi di SPDN Tanjungsari, Kabupaten Pemalang anjlok. Saat kondisi normal penjualan solar untuk nelayan antara 6.000 liter per hari sampai 7.000 liter per hari, sedangkan saat cuaca ekstrem penjualan anjlok menjadi 2.000 liter per hari.
“Cuaca ekstrem yang terjadi beberapa bulan terakhir sangat berdampak terhadap penjualan solar bersubsidi di TPI Tanjungsari, Pemalang. Para nelayan tidak berani melaut sebab sering terjadi gelombang tinggi yang membahayakan para nelayan saat di tengah laut,” ujar Ahmad Tibrani, Senin (2/2).
Ia mengatakan, selain berdampak pada penjualan bahan bakar, kondisi itu juga berpengaruh pada pendapatan nelayan yang menggantungkan hidupnya dari hasil tangkapan laut.
Banyak nelayan terpaksa menghentikan sementara aktivitas melaut dan mencari pekerjaan alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pihaknya berharap kondisi cuaca segera membaik agar aktivitas nelayan kembali normal. Dan roda perekonomian masyarakat pesisir bisa kembali bergerak.
Sementara itu, nelayan di imbau untuk tetap memperhatikan informasi prakiraan cuaca dari instansi terkait dan mengutamakan keselamatan saat melaut.
“Saat ini kondisi cuaca sedang tidak bersahabat. Sebab terjadi gelombang tinggi, dan angin kencang. Bahkan dari Syahbandar, Polisi Air, TNI AL memasang bendera hitam di muara sungai sebagai tanda bahaya,” ujar Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Pemalang, Abul Hasan, dalam berita sebelumnya.
Ia mengatakan, kondisi cuaca yang terjadi di laut sangat berpengaruh terhadap aktifitas nelayan. Sehingga berdampak pada penjualan solar bersubsidi. SPDN Tanjungsari hanya melayani untuk para nelayan di TPI Tanjungsari, sehingga kuota nya di sesuaikan dengan kebutuhan.


