“Kalau Ramadan biasanya sepi trip. Jadi kegiatan seperti ini bisa membantu juga,” ujarnya.
Cerita serupa disampaikan sopir lainnya, Ginanjar Aji (36), asal Cilacap. Ia mengaku hampir setiap tahun terlibat dalam program pengangkutan pemudik seperti ini. Sebelum keberangkatan, ia memastikan semua komponen kendaraan dalam kondisi baik.
“Armada dicek semua, mulai kampas rem, oli, dan lain-lain. Driver juga sudah cek kesehatan dan tes narkoba, jadi semuanya siap,” kata Ginanjar.
Bagi Ginanjar, ada kebanggaan tersendiri bisa terlibat dalam perjalanan mudik ribuan orang.
“Senang bisa ikut membantu masyarakat mudik. Rasanya senang juga melihat mereka bisa pulang ke kampung halaman,” tuturnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah, Risturino, mengatakan, program Mudik Lebaran Gratis merupakan bentuk kepedulian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Paguyuban Jawa Tengah serta sejumlah mitra. Pada 2026, program ini menggunakan dua moda transportasi darat, yakni bus dan kereta api.
Untuk moda bus, Pemprov Jawa Tengah menyiapkan 325 unit dengan kapasitas 16.186 penumpang yang akan diberangkatkan menuju 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Selain itu, terdapat pula 23 bus yang diberangkatkan dari Lanud Sastranegara Bandung.
Para pemudik dijadwalkan berangkat pada Senin, 16 Maret 2026, dari area parkir Museum Purna Bhakti Pertiwi TMII dan Masjid At-Tin, Jakarta Timur. Pelepasan ribuan pemudik tersebut rencananya akan dilakukan langsung oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.
Bagi para sopir seperti Sugio dan Ginanjar, perjalanan itu bukan sekadar tugas mengemudi. Di balik kemudi, mereka ikut menjadi bagian dari perjalanan panjang para perantau yang menjemput hangatnya kampung halaman saat Lebaran. (**)


