Sunaryo juga menyoroti perhatian pemerintah terhadap kelompok difabel yang dinilainya semakin baik. Ia merasa dilibatkan dan diprioritaskan, sesuatu yang sebelumnya jarang ia rasakan.
Di sudut lain, Sri Sardadi (80) duduk tenang menunggu waktu keberangkatan. Lansia asal Kemusuk, Boyolali, yang kini tinggal di Jakarta itu mengaku bahagia bisa pulang kampung dan kembali ke perantauan bersama keluarga tanpa harus memikirkan ongkos yang mahal.
“Senang sekali, bisa pulang bareng. Kalau tidak ada ini, ya sedih, mahal, enggak bisa kumpul keluarga,” katanya pelan.
Program Balik Rantau Gratis tahun ini memang dirancang lebih inklusif. Kepala Dinas Perhubungan Jawa Tengah, Arief Djatmiko, menyebutkan total 84 bus diberangkatkan menuju Jakarta dan Bandung, mengangkut sekitar 4.181 peserta. Di antara mereka, terdapat difabel dan lansia yang mendapatkan fasilitas khusus, termasuk layanan penjemputan dari rumah.
“Keselamatan dan kenyamanan jadi prioritas. Difabel dan lansia kita fasilitasi khusus, bahkan ada penjemputan dari rumah,” jelasnya.
Pendekatan ini menjadi pembeda, memastikan bahwa akses transportasi tidak hanya tersedia, tetapi juga ramah bagi semua kalangan.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang hadir melepas keberangkatan menegaskan, program mudik dan balik gratis merupakan bentuk kehadiran negara bagi masyarakat kecil, terutama pekerja informal yang menggantungkan hidup di kota besar.
“Balik gratis ini menjadi role model, menjadi tradisi para pekerja informal di perantauan. Negara hadir memberikan sumbangan, meskipun kecil, tapi berharga bagi mereka,” ujarnya.
Di tengah arus balik Lebaran yang identik dengan kepadatan dan tingginya biaya perjalanan, program ini menghadirkan alternatif yang lebih manusiawi. Bukan hanya memindahkan orang dari satu kota ke kota lain, tetapi juga membawa rasa aman, dihargai, dan diperhatikan.


