”Dengan adanya sekolah formal dan madrasah diniyah, Al-Inaaroh berfokus mengintegrasikan ilmu pendidikan umum dengan ilmu agama. Dengan demikian dapat menghasilkan masyarakat yang dapat mengikuti perkembangan zaman dengan tetap menjaga nilai-nilai agama dan berakhlak mulia,” ucapnya.
Pendidikan
Sebelum mendirikan pondok pesantren Al-Inaaroh, Abah Luthfi panggilan dari KH Muhammad Lufhfi, pernah menempuh pendidikan tsanawiyyah di Pondok Pesantren Salafiyyah Kajen, Pati. Lalu di lanjutkan menjadi santri di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri di bawah asuhan KH Idris Marzuqi. Setelah menimba ilmu di Fakultas Syariah IAIN Walisongo (sekarang UIN Walisongo), ia juga sempat mengembara ke beberapa pesantren untuk memperdalam ilmunya. Saat ini, KH Muhammad Luthfi menjabat sebagai Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Batang masa khidmah 2024-2029
”Di Al-Inaaroh, kami menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran pesantren yang integratif dan transformatif. Selain itu juga berusaha mengimplementasikan paham ahlussunnah wal jamaah dalam dunia pendidikan. Kami berkomitmen menjadi lembaga pendidikan yang kompetitif dan dapat melahirkan cendekiawan-cendekiawati muslim yang berakhlaqul karimah,” tegasnya.
Saat ini, gedung Al-Inaaroh berdiri di dua lokasi. Untuk yang santri putri di lahan seluas 5.000 m2, sedangkan kompleks santri putra di atas lahan 7.000 – 10.000 m2 karena berdampingan sekaligus dengan gedung KB, TK dan SD. MTs dan MA Al-Inaaroh juga d ikenal dengan sarana prasarana bangunan yang lengkap, estetik dan memberi kenyamanan pada peserta didik serta guru.
Sebagai alumni Pesantren Lirboyo, Abah Luthfi berusaha mengelola pesantren model klasik plus yang relevan dengan konteks zaman kekinian. Untuk itu, selain belajar ilmu-ilmu keagamaan dan umum, para santri juga mempelajari kitab kuning dan hafalan Al Qur’an dalam keseharian mereka.


