Selain pembagian beras, kegiatan tersebut juga menghadirkan pasar murah. Tujuannya untuk membantu masyarakat memperoleh bahan kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau, terutama selama Ramadan hingga menjelang Lebaran, ketika sejumlah komoditas cenderung mengalami kenaikan harga.
Menurut Ahmad Luthfi, stabilitas ketersediaan dan harga pangan menjadi perhatian pemerintah daerah agar masyarakat tidak mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Ketersediaan dan keterjangkauan ini harus kita jaga. Jangan sampai ada kelangkaan sehingga harga naik. Masyarakat juga tidak perlu panic buying,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menjelaskan, kegiatan bazar dan pembagian beras tersebut tidak menggunakan anggaran dinas. Dana kegiatan berasal dari kontribusi yang dihimpun melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dari berbagai organisasi perangkat daerah.
Pasar murah dan bazar itu juga melibatkan 102 bidang di lingkungan Distanak, JTAB, serta sejumlah komunitas yang turut berpartisipasi menyediakan kebutuhan pokok bagi masyarakat.
“Tujuan kita supaya ketersediaan pangan tetap terjamin, sekaligus harganya bisa dijangkau oleh masyarakat,” kata Frans, begitu dia akrab disapa.
Bagi warga penerima manfaat, bantuan tersebut terasa sangat berarti. Arso, salah seorang tukang parkir di Ungaran, mengaku bantuan beras yang ia terima sangat membantu keluarganya, terutama menjelang Lebaran ketika kebutuhan rumah tangga meningkat. Penghasilan dari pekerjaannya sebagai tukang parkir dan kerja serabutan sering kali tidak menentu.
“Bahagia. Matur nuwun sanget, membantu sekali. Sehari kadang cuma dapat Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu, itu pun masih dipotong setoran. Dicukup-cukupin, anak juga masih sekolah dan kuliah,” ujarnya.


