Menurutnya, keberadaan embung yang berfungsi optimal akan sangat mendukung upaya Jawa Tengah dalam meningkatkan produksi pangan, khususnya padi, demi mencapai target swasembada.
Pada 2026, Jawa Tengah menargetkan produksi padi sebesar 10,55 juta ton gabah kering giling (GKG). Sementara itu, berdasarkan prognosa Kerangka Sampling Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi Januari–Mei 2026 diperkirakan mencapai 4,69 juta ton GKG.
“Tahun lalu kita sudah hampir 9,7 juta ton atau memenuhi 15,6 persen kebutuhan padi nasional. Kita ingin ke depan bisa menjadi nomor satu,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ahmad Luthfi menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mengantisipasi potensi kekeringan, termasuk dengan Kodam IV/Diponegoro yang memiliki program pipanisasi dan sumurisasi. Koordinasi juga dilakukan dengan pemerintah kabupaten/kota untuk memetakan wilayah yang membutuhkan intervensi tersebut selama musim kemarau.
“Yang paling utama adalah memastikan kebutuhan dasar pertanian tetap terpenuhi dan air baku bagi masyarakat tersedia. Kita lakukan langkah ini lebih awal agar tidak kecolongan,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu petani di Tasikmadu, Admin, mengaku keberadaan Embung Alastuwo sangat membantu, khususnya saat musim tanam kedua dan ketiga yang umumnya berlangsung pada musim kemarau.
“Kalau musim tanam kedua masih sangat terbantu. Tapi saat musim tanam ketiga biasanya mulai kesulitan air, karena saluran irigasi banyak yang rusak,” katanya. (**)


