Harapan di Balik Rumah Bambu, RTLH Jateng Bergerak

SRAGEN, smpantura – Air mata Sukri tak terbendung ketika Ahmad Luthfi melangkah masuk ke rumah bambunya di Dusun Plumbon, Desa Gondang, Kabupaten Sragen, Rabu (4/3/2026). Di hunian sederhana yang telah ia tempati sejak 1965 itu, secercah asa akhirnya hadir melalui program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) 2026.

Rumah berdinding anyaman bambu yang di lapisi terpal tersebut, yang selama ini di huni Sukri, seorang buruh serabutan, segera di renovasi lewat program RTLH Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Di hadapan Gubernur, Sukri berdiri dengan suara bergetar. Lantainya masih berupa tanah, sebagian hanya dialasi sisa baliho dan terpal. Dinding bambunya mulai rapuh di makan usia, sementara atapnya bocor di sejumlah titik. Rumah itu merupakan warisan orang tuanya yang di bangun sekitar tahun 1965 dan belum pernah tersentuh perbaikan berarti sejak saat itu.

BACA JUGA :  Ketahanan Pangan Tetap Jadi Fokus Utama Program Prioritas Jawa Tengah Tahun 2026

“Ini nanti di bangun semuanya, Pak. Dinding, lantai, atapnya di ganti. Panjenengan bisa tidur di kasur yang lebih empuk. Wis ora usah mikir sedih-sedih,” ujar Ahmad Luthfi menenangkan.

Sukri kian tak kuasa menahan air mata. Ia mengaku tak pernah membayangkan rumahnya akan mendapat perhatian langsung dari orang nomor satu di Jawa Tengah. Apalagi mendengar apa yang baru saja di katakan Gubernur, rumah bambunya akan di ganti baru dengan yang jauh lebih bagus.

“Alhamdulillah senang sekali. Tidak menyangka Pak Gubernur datang dan saya dapat bantuan seperti ini,” katanya terbata.

Data

Berdasarkan pendataan pemerintah daerah, rumah Sukri masuk kategori tidak layak huni. Selain dinding dan rangka atap berbahan bambu, banyak tegel lantai yang pecah. Kamar mandi pun dalam kondisi tidak memenuhi standar kesehatan.