SLAWI, smpantura – Kejadian banjir di Sungai Gung wilayah Desa Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal menjadi tamparan keras bagi pelestari hutan di lereng Gunung Slamet. Akhir-akhir ini, para relawan pelestarian lingkungan gencar melakukan penanaman di lereng Gunung Slamet. Namun, upaya itu akan sia-sia tanpa pengawasan dan pemeliharaan pasc penanaman.
“Pada Rabu 14 Januari 2026, kami menggelar elemen masyarakat untuk melakukan penanaman 1.000 bibit pohon di kawasan MUT dan Rimpak wilayah Dukuh Sawangan, Desa Sigedong, Kecamatan Bumijawa,” kata Ketua Aliansi Lereng Gunung Slamet Kabupaten Tegal Abdul Khayi, Kamis 22 Januari 2026.
Di katakan, kejadian banjir di Sungai Gung Guci telah menyadarkan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk peduli dengan lingkungan di lereng Gunung Slamet. Banjir yang di sinyalir akibat alih fungsi lahan di atas wisata Guci itu, harus segera di tangani. Pihaknya berupaya untuk mendorong semua pihak yang berkepentingan untuk ikut peduli terhadap lereng Gunung Slamet.
“Kami menuntut di bentuk Satgas Pengawasan. Mengingat sesuai data hutan yang mengalami kerusakan luasnya sekitar 50 hektare. Kondisinya menurut saya sangat kritis karena di lokasi tersebut tidak ada pepohonan sebagai tegakan dan penahan air hujan,” ungkap Abdul Khayi.
Abdul Khayi membeberkan, kondisi tidak adanya pohon sebagai tegakan, sangat berpotensi terjadinya banjir bandang dan longsor.
“Jadi pohon di tebang dan di ganti dengan tanamam sayuran seperti kentang, kol dan sejenisnya. Luas 50 hektare yang mengalami kerusakan lokasinya di Dukuh Sawangan sampai ke wilayah atas Guci,” terangnya.


