Slawi  

Inilah Alasan Kenapa Nasi Kuning Tak Pernah Sepi Peminat

SLAWI, smpantura – Aroma nasi kuning masih setia menyapa pagi di depan rumah Ibu Tuminah (54), warga Desa Kabunan, Kabupaten Tegal. Selama lebih dari sepuluh tahun, ia menjajakan nasi kuning sederhana yang hingga kini tetap di gemari berbagai kalangan.

Menurut Tuminah, nasi kuning memiliki kelebihan di banding menu sarapan lain. Rasanya gurih, tidak pedas, dan mudah di terima semua usia. “Kalau nasi kuning itu aman buat siapa saja. Anak-anak suka, orang tua juga cocok,” ujar Tuminah saat di temui, Jum’at pagi.

Pilihan lauk yang sederhana justru menjadi daya tarik. Tempe orek, mi, telur dadar, kerupuk, dan sambal di sajikan tanpa berlebihan. “Yang penting rasanya pas dan bersih. Pembeli itu biasanya cari yang sederhana tapi enak,” katanya.

Nasi kuning juga identik dengan sarapan praktis dan terjangkau. Dengan harga mulai Rp5.000, pembeli sudah mendapatkan porsi yang mengenyangkan. Hal ini membuat nasi kuning kerap menjadi pilihan warga sebelum berangkat kerja atau sekolah.

BACA JUGA :  Khofifah Jadi Rebutan Emak-Emak di Harlah Muslimat NU

Setiap hari, Tuminah memulai aktivitas sejak tengah malam. Ia menyiapkan bahan dan memasak bersama suami serta anak-anak agar pukul 05.00 WIB dagangan sudah siap. “Kalau di kerjakan sendiri nggak bakal kejar waktu, makanya di bantu keluarga,” tuturnya.

Meski jumlah pembeli tidak sebanyak beberapa tahun lalu, Tuminah tetap bertahan. Ia menyesuaikan jumlah beras yang di masak, dari sebelumnya hingga tiga kilogram, kini sekitar satu sampai dua kilogram.

“Yang penting usaha ini tetap jalan dan bisa bantu ekonomi keluarga,” ucapnya. Bagi Tuminah, nasi kuning bukan sekadar dagangan, melainkan sumber penghidupan yang terus ia jaga dengan ketekunan. (**)