“Tujuan dan harapannya adalah agar petani tetap bersahabat dengan alam dan spiritualitas. Sehingga tercipta keseimbangan dan adaptasi yang harmonis. Selain itu, secara sosial tradisi ini juga mempererat tali silaturahmi antara warga. Sekaligus menjadi hiburan bagi masyarakat,” paparnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, dalam prosesi itu juga adanya berebut hasil bumi, seperti sayur-sayuran, bawang merah dan lainnya. Hal itu sebagai rasa syukur petani dari hasil panen sebelumnya.
“Harapan kami, selama musim tanam tidak terkena hama dan bisa menghasilkan panen yang berlimpah,” sambungnya
Nur Wahid, seorang petani Desa Bulusari mengaku, akhir-akhir ini lahan persawahan di desanya di serang hama tikus. Hama itu menggerogoti tanaman bawang merah maupun padi milik para petani.
“Harapan kami, dengan ritual Jaran Lumping di lahan persawahan tidak ada lagi hama tikus merusak tanaman. Sehingga hasil panen kami bisa maksimak, dan meningkatkan perekonomian keluarga,” pungkas. (**)


