Jejak sejarah pendiriannya hingga kini masih dapat di temukan melalui sebuah plakat yang menempel di salah satu bagian bangunan sekolah. Plakat tersebut bertuliskan, “Di persembahkan kepada Rakyat Bumiaju atas djasanja menjelamatkan kereta api dari malapetaka akibat runtuhnja djembatan Kali Keruh pada tanggal 18 Maret 1972.”
Seiring perjalanan waktu, kondisi SD Negeri Adisana 01 saat ini terbilang memprihatinkan. Jumlah siswa relatif sedikit, sementara kondisi fisik bangunan tampak mulai menua. Beberapa bagian pagar sekolah terlihat rusak, dan cat tembok mengelupas di makan usia.
Minimnya jumlah peserta didik di sebut di pengaruhi persaingan dengan sekolah dasar swasta di sekitar Kecamatan Bumiayu. Kondisi tersebut bahkan sempat membuat SD Negeri Adisana 01 masuk dalam wacana regrouping.
Namun demikian, masyarakat menilai sekolah ini memiliki nilai sejarah yang tidak tergantikan. Bagi warga setempat, SD Negeri Adisana bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga simbol kepedulian dan keberanian warga dalam menghadapi situasi darurat.
Sementara itu, Jembatan Kereta Api Sakalimalas kini sudah tidak lagi di fungsikan sejak beroperasinya jalur rel ganda Cirebon–Kroya. Jembatan lama tetap di pertahankan dan berdiri berdampingan dengan jembatan baru berkonstruksi beton sebagai saksi perubahan zaman.
Di tengah dinamika dunia pendidikan dan perubahan infrastruktur, SD Negeri Adisana 01 tetap berdiri. Sebagai pengingat bahwa tindakan cepat dan keberanian warga dapat memberi dampak jangka panjang. Dari sebuah aksi penyelamatan, lahirlah fasilitas pendidikan yang hingga kini masih menyimpan nilai keteladanan bagi generasi berikutnya. (**)


