Intervensi juga menyasar komoditas perkebunan, meliputi tebu seluas 1.010 hektare, kopi 770 hektare, dan kelapa 540 hektare.
Dari sisi infrastruktur, pemerintah merehabilitasi 334 paket jaringan irigasi tersier serta membangun 75 paket irigasi perpipaan guna mendukung ketersediaan air bagi lahan pertanian.
Modernisasi pertanian turut di perkuat melalui distribusi alat dan mesin pertanian. Seperti 100 unit rice transplanter, 86 unit traktor crawler, 30 unit traktor roda empat, 100 unit pompa air, serta 10 unit combine harvester, selain cultivator dan hand tractor.
Di sektor perlindungan petani, program asuransi usaha tani padi mencakup 10.449 hektare lahan, serta asuransi tembakau seluas 10.000 hektare. Pemerintah juga memberikan subsidi suku bunga untuk 800 paket pembiayaan petani.
Selain itu, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dan program kesehatan hewan terus di gencarkan, termasuk vaksinasi terhadap 100.000 ekor ternak serta pengobatan bagi 10.000 ekor.
Defransisco menegaskan, pendekatan yang di lakukan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga keberlanjutan sistem pertanian. Upaya tersebut meliputi penguatan luas baku sawah, peningkatan indeks pertanaman, serta pemanfaatan teknologi pertanian.
Konsep Petarung Sejati
Pemerintah juga mengembangkan konsep kemitraan “petarung sejati” antara petani dan pelaku usaha untuk menjaga ketersediaan serta distribusi komoditas strategis. Salah satu implementasinya adalah komitmen penyediaan 450 ton cabai rawit merah guna mengantisipasi periode off-season pada 2026.
Di tengah tantangan alih fungsi lahan dan penurunan luas baku sawah sebesar 17.114 hektare pada 2025 yang berpotensi mengurangi produksi hingga 191.297 ton, Pemprov Jawa Tengah memperkuat koordinasi lintas sektor.


