Bahkan gagasan Ahmad Luthfi tentang upaya menyelamatkan pesisir Pantai Utara di Jawa Tengah dari abrasi, di bukukan Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri). Mageri Segoro hadir sebagai ikhtiar kolektif membangun perlindungan pantai melalui tanggul laut terpadu, rehabilitasi mangrove, dan penataan kawasan pesisir. Ia bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi narasi tentang keberanian melawan kehilangan, dan kesungguhan menjaga ruang hidup dari ancaman yang terus bergerak.
Keseriusan itu mendapat pengakuan nasional. Mageri Segoro tercatat dalam Muri sebagai program penanganan abrasi dan rob pesisir terintegrasi. Penanaman Mangrove Serentak Terbanyak. Ada 1,9 juta bibit mangrove di 17 kabupaten/kota pesisir secara serentak, melibatkan lebih dari 20 ribu peserta. Rekor ini bukan sekadar catatan prestasi, melainkan penegasan bahwa pendekatan Jawa Tengah dalam merawat garis pantai di nilai inovatif dan berdampak luas.
Deretan prestasi itu di perkuat dengan capaian Jawa Tengah sebagai Provinsi Terbaik I dalam pelaksanaan program penyediaan perumahan. Serta peringkat tinggi dalam industri hijau dan inovasi pemerintahan. Berbagai penghargaan dari Kemendagri, KemenPAN-RB, hingga Kementerian Perindustrian menempatkan Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi paling adaptif menghadapi perubahan.
Bagi Gubernur Ahmad Luthfi, deretan penghargaan itu bukan tujuan akhir. “Tapi pengingat agar kebijakan yang kami jalankan benar-benar berdampak, melayani masyarakat, menjaga integritas, menstabilkan ekonomi, dan membuka ruang investasi seluas-luasnya,” ujarnya.
Empat puluh penghargaan itu, pada akhirnya, bukan soal jumlah tapi sebagai penanda arah. Ia adalah cermin konsistensi, tentang bagaimana Jawa Tengah menata pembangunan dengan pijakan pelayanan publik, tata kelola yang bersih, stabilitas ekonomi, dan pertumbuhan berkelanjutan menuju masa depan. (**)


