Berkembangnya para etnis melalui berbagai sektor, menjadikan pemerintah kolonial sangat bergantung kepada mereka. Bahkan, tidak jarang para etnis Tionghoa menggelar pesta dan sejenisnya bersama kolonial di setiap perayaan-perayaan besar.
Kemudian, pada saat Perang Dunia II, orang-orang Tionghoa di Tegal, membentuk semacam dana Perang Dunia II, sehingga kontribusi mereka terhadap pemerintah saat itu sangatlah besar.
“Hanya saja, pada waktu itu sempat terjadi badai politik, tepatnya saat Peristiwa Tiga Daerah yang kemudian menjadikan orang-orang Tionghoa menjadi korbannya. Mulai dari pembantaian hingga pengambilan aset. Peristiwa ini sudah dicantumkan dalam catatan-catatan orang Belanda,” tukasnya.
Di satu sisi yang terlupakan oleh pemerintah, para keturunan Tionghoa merawat dan meruat sebuah proses komunikasi kultural. Saat Imlek saat ini, makanan khas seperti kue keranjang, latopia dan tauco laris.

“Tetapi pemerintah belum bisa mempertahankan itu sebagai identitas bersama. Padahal, latopia bisa dijadikan warisan budaya tak benda Kota Tegal. Termasuk industri kecap merek Djoe Hoa di Kota Tegal, yang dirintis etnis Tionghoa sejak 1943. Banyak kuliner-kuliner dan kesenian, seperti Wayang Potehi dan Wayang Cepak yang konon banyak dikembangkan salah satu seniman Cina di Tegal,” katanya.