Bagi Riyanto, kunci keberhasilan diaspora terletak pada ketekunan, etos kerja tinggi, dan kemampuan bertahan. Ia menyebut, perantau terbiasa berjuang lebih keras karena memulai segalanya dari nol, tanpa kemewahan dan tanpa jaring pengaman.
“Pendatang biasanya lebih ‘fight’. Bisa menahan lapar, menahan segalanya, karena tidak punya apa-apa. Tapi justru itu yang membentuk daya tahan,” katanya.
Namun, ia menegaskan satu hal yang tak boleh ditinggalkan: jati diri. “Tetap rendah hati. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Identitas harus dijaga, sekaligus menghormati budaya tempat kita hidup.”
Jejak serupa juga terlihat pada sosok Jihan Nurlela, Wakil Gubernur Lampung periode 2025–2030. Ia lahir dan besar di Lampung dari keluarga transmigran yang datang pada 1982. Ayahnya berasal dari Jawa Timur, sementara ibunya dari Rembang, Jawa Tengah.
“Saya lahir di Lampung. Orangtua saya transmigran. Nilai-nilai kerja keras dan kesederhanaan itu yang kami pegang sampai sekarang,” kata Jihan.
Tak hanya dirinya, dua saudara kandung Jihan juga dikenal sebagai tokoh di bidang masing-masing. Ia menilai keberhasilan diaspora tak lepas dari kemampuan menjaga budaya baik sekaligus beradaptasi dengan lingkungan baru.
Jihan berpesan agar masyarakat Jawa, khususnya dari Jawa Tengah, yang tersebar di berbagai daerah tetap menurunkan nilai-nilai positif kepada generasi berikutnya. Diaspora, menurutnya, harus hadir sebagai kekuatan sosial yang memberi manfaat bagi daerah tempat tinggal maupun daerah asal.
Ia juga berharap kerja sama antara Provinsi Lampung dan Jawa Tengah terus diperkuat. Sejumlah kolaborasi lintas sektor telah terjalin dan diharapkan menjadi pengungkit kesejahteraan masyarakat di kedua provinsi yang memiliki ikatan sejarah kuat melalui transmigrasi.


