Tegal  

Krisis Air Bersih di Tegal, Warga Rela Antre di Bawah Rintik Hujan

TEGAL, smpantura – Krisis air bersih di Kota Tegal belum juga pulih total. Hampir sebulan pasca bencana di lereng Gunung Slamet, warga di sejumlah kecamatan masih bergantung pada distribusi air tangki.

Di Kelurahan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat, sekitar 700 kepala keluarga di RW 03 Jalan Brawijaya menjadi wilayah terdampak paling parah.

Warga mengaku air PDAM belum mengalir normal sejak kejadian di kawasan Guci pada Januari lalu.

“Di buka 24 jam juga tidak keluar setetes pun,” kata Sumitro, warga RT 01/RW 03, Senin 16 Februari 2026.

Untuk kebutuhan harian, sebagian warga terpaksa menggunakan air sumur bor yang rasanya payau.

Bahkan saat hujan deras turun, warga tetap bertahan menunggu jeriken dan galon terisi.

Ketua RW setempat, Supendi mengatakan, laporan kerusakan sudah disampaikan sejak awal Februari. Namun distribusi belum pulih sepenuhnya karena diduga banyak jaringan pipa rusak.

BACA JUGA :  KPU Kota Tegal Buka Pendaftaran Bakal Caleg Hari Ini

“Idealnya satu RT satu tangki 6.000 liter, tapi kemarin baru cukup satu RT,” ujar Pendi.

Krisis kini tidak hanya terjadi di Tegal Barat. Keluhan serupa muncul dari wilayah Margadana, Tegal Selatan hingga Tegal Timur.

Pemerintah Kota Tegal melalui DPUPR mengerahkan dua truk tangki berkapasitas masing-masing 8.000 liter untuk menyuplai kebutuhan warga.

Plt Kepala DPUPR Kota Tegal, Heru Prasetya, mengatakan, tim dibagi ke sejumlah kelurahan seperti Muarareja, Panggung, Bandung, Debong Kidul, Sumurpanggang, Krandon, Tunon hingga Debong Tengah.

“Meskipun hari libur, pelayanan tetap kami optimalkan,” ujar Heru, Selasa 17 Februari 2026.

Warga dapat mengajukan permintaan bantuan melalui RT/ RW lalu di teruskan ke kelurahan dan kecamatan agar di jadwalkan distribusinya. (**)