Logika vs Emosi : Peran Persuasi dalam Pilpres 2024

Dengan demikian, debat capres dan cawapres merupakan momen penting dalam proses Pemilihan Umum yang memungkinkan pemilih untuk mendengarkan, mempertimbangkan dan mengevaluasi secara langsung argumen, rencana kebijakan, karakter dan kepemimpinan para calon.

Agar membantu pemilih lebih memiliki informasi dan rasional dalam membuat keputusan untuk memilih para calon.

Ketika melihat debat, pemilih seringkali mengalami berbagai respons emosional terhadap para calon.

Respons emosional ini dapat dipengaruhi oleh cara para calon berbicara, menanggapi pertanyaan dan berinteraksi satu sama lain.

Misalnya, pemilih mungkin merasa terinspirasi oleh visi misi yang diungkapkan oleh capres dan cawapres atau merasa terhubung dengan cara mereka menyampaikan argumen dan rencana kebijakan.

Di sisi lain, pemilih juga mungkin merasa tidak puas atau skeptis terhadap respons emosional mereka terhadap calon tersebut.

BACA JUGA :  Awal Pilihan Presiden dari Klik "Like" Tontonan

Setelah mendengarkan visi misi capres atau wapres, pemilih kemudian dapat menggunakan logika berpikir untuk mengevaluasi dan mempertimbangkan rencana kebijakan yang diungkapkan.

Mereka dapat meninjau argumen-argumen yang disampaikan, mencari fakta, data dan analisis yang mendukung atau menentang klaim-klaim yang dibuat oleh calon, serta mempertimbangkan implikasi kebijakan tersebut terhadap kehidupan mereka dan masyarakat secara keseluruhan.

Dengan menggunakan logika berpikir, pemilih dapat membuat keputusan yang didasarkan pada pertimbangan rasional dan informasi yang teruji.

Dominasi Gen Z dan Milenial

Fakta menarik bahwa Generasi Z dan milenial, yang mewakili lebih dari 50 persen dari keseluruhan pemilih di Indonesia, memiliki peran yang sangat signifikan dalam proses pemilu 2024.

error: