Slawi  

Menjadi Santripreneur: Menggabungkan Keilmuan Agama dan Kemandirian Ekonomi

CERAMAH : Wakil Ketua 1 Baznas Kabupaten Tegal Fathin Hammam ceramah tentang Santripreneur di Pondok Pesantren Muhammadiyah Zaenab Masykur Adiwerna, Minggu (8/3/2026).

Beliau juga mengingatkan bahwa dalam Islam, bekerja dan berusaha merupakan bagian dari ibadah. Banyak teladan dari para sahabat Nabi yang menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan dan usaha tidak pernah di pisahkan dari nilai-nilai keimanan. Oleh karena itu, semangat kewirausahaan seharusnya tidak di anggap bertentangan dengan kehidupan seorang santri.

Di hadapan ratusan santri yang hadir, Fathin Hammam menjelaskan bahwa dunia saat ini membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara ekonomi. Tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut para santri untuk memiliki kemampuan adaptasi, kreativitas, dan keberanian dalam menghadapi perubahan.

Ia mencontohkan bahwa banyak peluang usaha yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan santri. Mulai dari usaha kuliner, perdagangan kecil, produksi makanan ringan, jasa digital, hingga pengembangan produk halal.

Dengan kemajuan teknologi, santri bahkan dapat memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk memasarkan produk mereka secara lebih luas.

BACA JUGA :  Jasa Raharja Akan Beri Santunan Korban Kecelakaan Maut di Guci Tegal

Namun demikian, Fathin Hammam menegaskan bahwa menjadi santripreneur bukan sekadar mencari keuntungan semata. Seorang santripreneur harus menjadikan usaha sebagai sarana untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Prinsip keberkahan harus menjadi landasan utama dalam setiap aktivitas ekonomi.

“Usaha yang baik bukan hanya yang menghasilkan keuntungan besar. Tetapi usaha yang membawa keberkahan, memberi manfaat bagi orang lain, dan di lakukan dengan cara yang halal serta jujur,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengajak para santri untuk mulai menumbuhkan pola pikir kemandirian sejak dini. Kemandirian tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi harus di latih melalui kebiasaan-kebiasaan kecil, seperti belajar mengelola waktu, disiplin dalam bekerja, serta berani mencoba hal-hal baru.