Suparti menuturkan, saat hujan turun deras, ia sempat mengajak suaminya keluar rumah untuk membantu tetangga. “Saya sempat ajak suami keluar dan bantu-bantu di rumah Pak Imam. Tidak lama kemudian tanahnya amblas,” ujarnya.
Akibat kejadian itu, keluarga Sukarno terpaksa mengungsi sementara. Suparti mengaku masih syok. Ketika ditanya gubernur mengenai kebutuhan mendesak, ia hanya berharap perbaikan segera dilakukan agar keluarganya bisa kembali menempati rumah sendiri.
“Saya tidak bisa berkata-kata. Cuma itu segera diperbaiki saja agar tidak menumpang di rumah orang terus. Sama bantuan lain seperti sembako, karena suami juga sudah tidak kerja karena stroke,” tuturnya.
Bahkan ia memaknai musibah yang dia terima hikmahnya adalah Gubernur Jawa Tengah dan Bupati Semarang menyambangi rumah mereka dan memberikan perhatian dan bantuan kepada masyarakat kecil seperti dirinya.
Menanggapi hal tersebut, Ahmad Luthfi memastikan dinas terkait telah diinstruksikan turun tangan. Pemerintah provinsi akan berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten untuk penanganan teknis, termasuk asesmen struktur tanah dan perbaikan infrastruktur terdampak.
Dari kunjungan itu, pelukan gubernur dan janji penanganan tuntas memberi kelegaan bagi keluarga Sukarno dan warga permukiman bahwa mereka tidak menghadapi musibah ini sendirian. Negara hadir di antara mereka. (**)


