Tegal  

Pesantren Nururrokhayah Jadi Titik Ke-17 Gerakan Santri Menulis

Peresmian pondok baru dilakukan pada 17 September 2018, yang menandai dimulainya aktivitas pendidikan secara resmi. Sejak saat itu, pesantren terus berkembang hingga kini memasuki usia sekitar tujuh tahun.

Nama Nururrokhayah sendiri memiliki makna khusus. Nama tersebut diambil dari dua tokoh yang berjasa dalam pendirian pesantren, yakni Kepala Kementerian Agama Kota Tegal Nuril Anwar dan pemberi wakaf lahan, Hj Rokhayah, yang juga dikenal sebagai pemilik Perusahaan Otobus Dewi Sri.

“Awalnya hanya ada satu asrama dan satu bangunan untuk tempat ibadah. Seiring waktu, pembangunan terus dilakukan setiap tahun,” ujar Zamzami.

Perkembangan fasilitas terus berjalan. Pada 2019, pesantren mendapatkan bantuan pembangunan satu asrama dari Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah.

Tahun 2020 memperoleh bantuan Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK), kemudian pada 2021 dibangun asrama putri.

BACA JUGA :  Ketika Wartawan Senior Bregas Berkumpul

Hingga tahun 2026, pembangunan asrama putri kembali dilanjutkan di sisi barat kompleks pesantren.

Perkembangan tersebut juga terlihat dari jumlah santri yang terus meningkat. Jika pada awal berdiri hanya terdapat 15 santri, kini jumlahnya telah mencapai sekitar 380 santri.

Tahun depan, pihak pesantren menargetkan jumlah santri bisa mencapai lebih dari 500 orang.

Santri di pesantren ini berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) setingkat SD, Madrasah Tsanawiyah (MTs) setingkat SMP, hingga Madrasah Aliyah (MA) setingkat SMA.

Untuk pendidikan formal, pesantren bekerja sama dengan MI Ar-Ridho, MTs Negeri Kota Tegal dan MAN Kota Tegal.

Menurut Zamzami, sistem pendidikan di pesantren menggabungkan pembelajaran kitab klasik dengan penguatan hafalan Al-Qur’an.