SLAWI, smpantura – Alih fungsi lahan di lereng Gunung Slamet wilayah Kabupaten Tegal tak sebatas persoalan mengembalikan lahan menjadi hutan. Namun, petani penggarap lahan Perhutani harus di carikan solusi agar tetap bisa bertahan hidup.
“Mengembalikan fungsi lahan tidak hanya mengusir petani dan tanam pohon. Tapi, setelah mereka tidak bertani mau apa?,” kata Ketua Aliansi Lereng Gunung Slamet Kabupaten Tegal, Abdul Khayyi, Rabu (28/1/2026).
Di katakan, petani penggarap lahan di hutan lereng Gunung Slamet melakukan kegiatan menanam sayuran, lantaran kebutuhan hidup. Hal itu yang membuat mereka tetap mempertahankan lahannya. Walaupun telah di tanami pohon, namun petani sengaja merusak tanaman yang baru di tanam.
“Metodenya pohon yang baru tanam, di cabut petani. Tapi, di kembalikan lagi sama petani. Terlihat masih utuh, tapi tidak bisa tumbuh karena akarnya mati,” beber Khayyi.
Khayyi menuturkan, butuh solusi bagi petani penggarap lahan Perhutani agar tetap mendapatkan pendapatan. Mereka harus di alihkan kepekerjaan lainnya agar tidak kembali lagi menanam di lereng Gunung Slamet. Pasalnya, selama ini setelah petani di minta untuk tidak menanam di hutan, tetap kembali untuk menanam sayuran.
“Kalau urusan perut belum terselesaikan, maka mereka akan tetap menanam di hutan,” ujar Khayyi.
Lebih lanjut di katakan, pihaknya bersama pemerintah, Perhutani dan relawan berkali-kali memberikan sosialisasi terhadap para petani penggarap lahan Perhutani. Namun, belum sadar akan pentingnya hutan. Ia berharap pemerintah daerah bisa memasukan pelajaran muatan lokal tentang pelestarian alam di tiap sekolah yang ada di lereng Gunung Slamet. Utamanya, sekolah di Bumijawa dan Bojong.


