“Kami ingin petugas kloter dan petugas daerah sudah terintegrasi bahkan sebelum jemaah masuk asrama. Kolaborasi ini sangat penting agar perlindungan jemaah bisa lebih maksimal,” ujar Fitriyanto.
Sebagai informasi, dari 180 PHD yang mengikuti pembekalan, 86 orang merupakan petugas layanan kesehatan dan 94 orang petugas layanan umum.
Mereka akan mulai mengawal keberangkatan Kloter 1 yang dijadwalkan memasuki Asrama Haji Donohudan pada 21 April 2026.
Sementara itu, Petugas Haji Daerah asal Kabupaten Demak, Wahid Su’udi, menegaskan dirinya bersama tim telah melakukan persiapan menyeluruh, baik secara teknis maupun mental, untuk menjalankan tugas pelayanan.
“Kami sudah mempersiapkan diri jauh hari, baik lahir maupun batin. Tugas ini kami niatkan untuk berkhidmah melayani tamu-tamu Allah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berbagai potensi persoalan yang kerap muncul dalam penyelenggaraan haji telah dimitigasi sejak awal. Hal itu dilakukan agar tidak ada jemaah yang terabaikan selama proses ibadah berlangsung.
“Kami tidak ingin ada jemaah yang terbengkalai. Ini soal tanggung jawab. Karena itu, kami sudah memetakan potensi kendala dan menyiapkan langkah antisipasi,” ujarnya.
Menurut Wahid, tantangan pelayanan haji tahun ini semakin kompleks. Terutama dengan fokus pada jemaah perempuan, lansia, dan kelompok berisiko tinggi. Ia menyebut, kelompok tersebut membutuhkan perhatian dan penanganan khusus.
“Mayoritas jemaah kami lansia dan berisiko tinggi. Untuk itu, kami siapkan pelayanan khusus, termasuk penguatan koordinasi dengan tim kesehatan agar penanganannya lebih cepat dan tepat,” katanya.
Wahid yang bertugas di Kloter 35 Kabupaten Demak dengan sekitar 360 jemaah menambahkan, kolaborasi antarpetugas menjadi kunci dalam memberikan pelayanan maksimal.


