Uang yang seharusnya digunakan untuk ongkos perjalanan, kata dia, kini bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga di kampung halaman.
“Bisa buat belanja di rumah atau berbagi sedikit dengan keluarga di kampung,” tambahnya.
Samino bukan peserta baru. Tahun ini menjadi kali ketiga ia mengikuti program mudik gratis yang diinisiasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Antusiasme serupa juga dirasakan Widya, seorang asisten rumah tangga (ART) yang bekerja di Jakarta. Bersama beberapa rekannya, ia sudah tiga tahun berturut-turut memanfaatkan program tersebut.
“Sudah tiga kali ikut. Sangat membantu karena meringankan biaya mudik,” katanya.
Bagi Widya, ongkos perjalanan pulang kampung yang mencapai ratusan ribu rupiah cukup berat jika harus ditanggung sendiri.
Karena itu, ia berharap program tersebut terus dilanjutkan pada tahun-tahun mendatang agar semakin banyak perantau yang terbantu.
“Harapannya semoga terus ada setiap tahun karena sangat membantu perantau seperti kami,” ujarnya.
Program Mudik Gratis Lebaran ini merupakan bentuk kepedulian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Paguyuban Jawa Tengah dan sejumlah mitra terhadap para perantau, khususnya pekerja sektor informal.
Data Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah mencatat, mudik gratis tahun 2026 menggunakan dua moda transportasi darat, yakni bus dan kereta api.
Untuk keberangkatan dari TMII Jakarta, disiapkan 325 unit bus dengan kapasitas 16.186 penumpang yang akan menuju 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Selain itu, terdapat 23 bus yang diberangkatkan dari Lanud Sastranegara Bandung dengan total 1.133 penumpang.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi secara langsung melepas keberangkatan para pemudik yang mayoritas berasal dari kalangan pekerja informal.


