“Top, dikasih bakso aku. Besok baliknya ikut program Balik Rantau Gratis juga? Bisa ngirit dong. Yang penting senang dan sehat,” kata Ahmad Luthfi.
Di balik sebungkus bakso itu, tersimpan kisah panjang perjuangan seorang perantau. Lulik sudah hampir 25 tahun hidup di Jakarta. Setelah lulus sekolah, ia mengikuti orang tuanya yang lebih dulu merantau ke ibu kota. Awalnya ia bekerja serabutan sambil membantu orang tua berjualan bakso.
Setelah menikah pada 2012, Lulik memutuskan membuka usaha sendiri sebagai pedagang bakso keliling. Sementara sang istri ikut menopang ekonomi keluarga dengan berjualan jamu keliling.
“Hampir 25 tahun jualan. Dulu ikut orang tua, terus sempat kerja serabutan, akhirnya setelah menikah baru jualan bakso sendiri,” ujarnya.
Penghasilan kotor dari berjualan bakso keliling rata-rata sekitar Rp 5 juta per bulan. Namun angka itu masih harus dipotong berbagai kebutuhan hidup di Jakarta.
Ia menyewa rumah kontrakan kecil bersama istri dan anak-anaknya dengan biaya Rp 800 ribu per bulan. Jika ditambah kebutuhan makan, listrik, dan air, total pengeluaran rumah tangga bisa mencapai sekitar Rp 1 juta per bulan. Belum lagi biaya sekolah anak yang harus terus dipenuhi.
Ketika musim Lebaran tiba, beban pengeluaran biasanya semakin berat. Harga tiket bus menuju Karanganyar bisa mencapai Rp 600 ribu per orang.
“Kalau mudik bayar sendiri ya berat. Makanya program mudik gratis ini sangat membantu sekali,” katanya.
Kisah serupa juga dialami Bejo Fauzan, pedagang bakso asal Jatiyoso, Karanganyar, yang kini berjualan di kawasan Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Bejo sudah merantau sejak 1994. Perjalanan usahanya dimulai dari yang paling sederhana.


