Awalnya ia berjualan bakso menggunakan pikulan. Lalu beralih menggunakan sepeda ontel, kemudian memakai gerobak dorong keliling. Setelah bertahun-tahun berjuang, ia akhirnya bisa membuka warung kaki lima. Kini Bejo bahkan mampu menyewa sebuah bangunan kecil untuk berjualan.
“Di sini baru empat tahun. Dulu warung tempel di depan situ, kemudian dapat kontrak bangunan ini. Sewanya Rp 3,5 juta per bulan,” katanya. Pendapatan kotor dari usahanya berkisar Rp 6 juta hingga Rp 7 juta per bulan.
Meski sudah puluhan tahun merantau, baru tahun ini Bejo mengetahui adanya program mudik gratis dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Informasi itu ia dapat dari Lulik.
“Baru tahu tahun ini dari Mas Lulik, lalu saya minta tolong didaftarkan sekeluarga,” katanya. Biasanya setiap Lebaran ia harus membeli tiket bus seharga Rp 600 ribu per orang untuk pulang kampung.
“Alhamdulillah ada mudik gratis. Lumayan uangnya bisa buat beli susu anak dan bekal lebaran di kampung,” ujarnya.
Di tengah kerasnya kehidupan perantauan, sebungkus bakso yang diberikan Lulik kepada gubernur mungkin terlihat sederhana. Namun di baliknya tersimpan cerita panjang tentang kerja keras, ketekunan, dan harapan para perantau untuk tetap bisa pulang ke kampung halaman tanpa beban biaya yang berat. (**)


