Air yang keluar bukan sekadar mengalir, tetapi “mudal” atau menyembur deras. Dari peristiwa inilah kemudian muncul nama Tuk Mudal yang merujuk pada cara munculnya air tersebut.
Beberapa waktu setelah berhasil mewujudkan sumber air itu, Mbah Camuluk dikabarkan meninggal dunia. Sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih, Putri Cempaka meminta agar beliau dimakamkan di wilayah tersebut. Sejak saat itu, kawasan itu dikenal sebagai Desa Cempaka, mengikuti nama sang putri.
Selain kisah tersebut, masyarakat juga mengenal versi legenda lain yang tak kalah menarik. Ada yang meyakini Tuk Mudal berkaitan dengan permintaan seorang putri raja yang ingin dibuatkan tempat pemandian sebelum menerima pinangan. Jejak cerita itu diyakini masih tersisa dalam bentuk batu lumpang yang disebut-sebut pernah digunakan sebagai tempat mandi.
Terlepas dari perbedaan versi cerita, satu hal yang tetap sama adalah keyakinan masyarakat terhadap keunikan Tuk Mudal. Mata air ini dianggap berbeda karena kemunculannya yang tidak lazim karena bukan dari bawah tanah, melainkan dari sisi tanah dengan semburan yang kuat.
Keberadaan kisah ini justru memperkuat identitas Tuk Mudal sebagai lebih dari sekadar sumber air. Ia adalah ruang di mana cerita, kepercayaan, dan warisan budaya bertemu.
Hingga kini, air Tuk Mudal masih terus mengalir, seolah mengingatkan bahwa di tempat itu pernah ada sebuah permintaan, sebuah usaha, dan sebuah peristiwa yang kemudian dikenang sebagai awal mula dari Tuk Mudal.
Mantan Kades Cempaka, Abdul Hayyi menuturkan, cerita rakyat Putri Cempaka menjadi legenda yang masih dipercaya keberadaanya. Sosok Putri Cempaka menjadi simbol semangat manfaat untuk kemaslahatan umat, karena air merupakan sumber kehidupan manusia.


