Desalinasi air payau menjadi air siap minum, verifikasi rumah tidak layak huni, penanganan stunting dan TBC, adalah contoh buah dari kolaborasi dengan perguruan tinggi. Kerja sama dengan provinsi tetangga seperti halnya Jawa Timur, Lampung, Riau, Maluku Utara karena sadar bahwa hari ini adalah era kolaborasi bukan sekadar kompetisi. Jawa Tengah memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Sebaliknya, provinsi tetangga memiliki kekurangan sekaligus kelebihan. Antarprovinsi saling mengisi.
Selama satu tahun membangun kerja sama baik pemerintah maupun pengusaha dari 15 negara seperti: Bulgaria, Fujian Cina, Australia, Malaka Malaysia, Singapura, Uni Eropa, Jerman, Inggris, Prancis, Selandia Baru, Paksitan, Kamboja, Kagawa Jepang, Brunei Darussalam, Uni Emirat Arab, ShigaJepang, India. Memang belum sepenuhnya netes, namun sebagian besar sudah membawa dampak nyata dalam investasi dan peningkatan sumber daya manusia.
Globalisasi mengharuskan Jawa Tengah keluar kandang sekaligus menangkap peluang pasar. Tidak peduli kucing hitam atau putih yang penting bisa tangkap tikus.
Pengusaha dirangkul, Baznas diajak, organisasi masyarakat dilibatkan. Berulang kali pertemuan dengan bupati/wali kota dilakukan. Bukan semata untuk memberi perintah, namun berbagi peran demi tercapainya visi yang sama. Memastikan data dan bertukar gagasan pengalaman untuk mendapatkan formula terbaik. Meaningful participation sebagai Kompas dalam gotong royong.
Anggota DPR RI, anggota DPRD Provinsi, dan anggota DPRD Kabupaten/Kota se Jawa Tengah ditempatkan sebagai mitrastrategis pembangunan melalui forum komunikasi yang langsung dipimpin oleh gubernur. Melalui forum komunikasi aspirasi pembangunan Jawa Tengah lebih terarah dan cepat terwujud. Demikian halnya dengan Forkopimda memiliki andil besar dalam menciptakan stabilitas dan kondusifitas Jawa Tengah.


