Setahun Holopis Kuntul Baris

Oleh : Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Jawa Tengah

Dampak dari gotong royong sudah mulai nampak secara statistik meski banyak pekerjaan rumah belum selesai. Jumlah penduduk miskin memang masih tinggi, kurang lebih 3,3 juta orang. Namun demikian ikhtiar penurunan angka kemiskinan sudah memenuhi target dengan capaian 9,39%. Kondisi ekonomi membaik di atas rata-rata nasional, tumbuh 5,37% atau 111,88% dari yang ditargetkan. Target penurunan pengangguran belum sesuai harapan, 4,66% dari target 4,42%.
Investasi meningkat dari target Rp 78,3 T tercapai Rp 88,5 T dengan serapan tenaga kerja 418.138 orang.

Jawa Tengah menempati peringkat tertinggi di pulau Jawa dalam rata-rata pertumbuhan investasi. Inflasi tahun 2025 sebesar 2,72% di bawah rata-rata nasional. Di sinilah peran penting dari sinergi BUMD dan organisasi perangkat daerah. Menghadirkan layakan kesehatan spesial hingga pelosok melalui spelling. Hingga Februari ini sudah menjangkau 935 desa dengan 91.808 sasaran.

Kinerja rumah sakit daerah semakin membaik. Meski masih juga banyak keluhan masyarakat akibat antrean pelayanan karena terbatasnya infrastruktur. Dalam bidang infrastrukur, status bandara A Yani menjadi bandara internasional telah memudahkan saudara-saudara kita yang bolak-balik Semarang-Kuala Lumpur tanpa perlu ke Jakarta. Pergi ke Karimunjawa juga semakin banyak pilihan moda transportasi.

BACA JUGA :  Spenuka Tegal dan Gerakan Sekolah Hijau: Menanam Nilai, Menumbuhkan Peradaban

Masih banyak rumah tidak layak di Jawa Tengah, namun angkanya semakin berkurang. Dari target 74,85% saat ini sudah 77,19% persentase rumah layak huni. Harus diakui kondisi jalan belum sepenuhnya baik, baru 89,94%.
Produksi padi mencapai 1,2 juta ton melebihi target. Kesejahteran petani yang diukur dengan nilai tukar petani untuk semua sektor pertanian memenuhi ambang minimal target. Meskipun banyak petani yang masih rugi karena banjir, Pemprov sudah mulai memberikan bantuan benih pagi petani terdampak banjir.