TEGAL, smpantura – Pemerintah mulai menata ulang pendekatan terhadap pekerja migran sektor kelautan dan perikanan yang tidak lagi sekadar berangkat kerja, tapi di siapkan dari sebelum berangkat hingga setelah pulang.
Melalui kolaborasi Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, pembekalan calon serta pemberdayaan purna pekerja migran di gelar di Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Tegal, Jumat 13 Februari 2026.
Sebanyak 300 peserta mengikuti kegiatan secara hybrid, 108 di antaranya merupakan peserta pelatihan langsung.
Kepala BPPSDM KP, I Nyoman Radiarta mengatakan, pendekatan baru ini menempatkan pekerja migran sebagai SDM strategis, bukan hanya tenaga kerja, tetapi juga calon pelaku usaha saat kembali ke tanah air.
“Tidak hanya pelatihan teknis, tetapi juga penguatan literasi keuangan dan kewirausahaan berkelanjutan sebagai bekal masa depan mereka,” kata Nyoman.
Sektor kelautan dan perikanan masih menjadi salah satu tujuan utama penempatan pekerja migran, tetapi juga memiliki tingkat kerentanan tinggi.
Karena itu, pembekalan menitikberatkan pada pemahaman migrasi aman, perlindungan kerja hingga reintegrasi profesi.
Data BPS
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada 2024, terdapat sekitar 297 ribu penempatan pekerja migran dengan remitansi mencapai USD 15,7 miliar atau sekitar Rp 263,8 triliun. Dan menjadikannya salah satu sumber devisa terbesar nasional.
Menurut Nyoman, besarnya kontribusi tersebut harus di imbangi kualitas kompetensi agar pekerja migran tidak terjebak pekerjaan berisiko rendah perlindungan.


