“Walaupun saya lahir di Jakarta, saya orang Jawa. Beberapa tahun terakhir saya lihat potensi Kota Tegal besar sekali. Tinggal butuh gebrakan dan dorongan,” ungkap Galih.
Menurut Galih, perkembangan Kota Tegal dalam lima tahun terakhir sangat pesat, terutama perubahan pola pikir anak muda yang semakin terbuka, seiring kemajuan teknologi.
Soto Joglo sendiri dihadirkan sebagai simbol perpaduan budaya Jawa, khususnya antara Tegal dan Semarang.
Galih menyebut, soto dipilih karena merupakan makanan khas Indonesia yang lintas daerah dan lintas selera.
“Soto Joglo itu sebenarnya perkawinan Tegal dan Semarang. Di Semarang kan soto khas, sementara di Tegal ada soto tauco. Kita hadir bukan untuk bersaing negatif, tapi bersaing secara positif,” kata Galih.
Galih menegaskan, kehadiran Soto Joglo tidak dimaksudkan menyingkirkan soto-soto legendaris di Tegal. Justru, konsumen diberi pilihan sesuai selera masing-masing.
Hal yang membedakan Soto Joglo, lanjut Galih, bukan hanya dari rasa. Seluruh masakan dimasak sendiri, tersedia menu pendamping seperti sate-satean serta melibatkan UMKM lokal untuk memasarkan produknya di kawasan tersebut.
“Nilai jual di sini bukan cuma sotonya, tapi tempat dan kawasannya. Setelah makan, orang bisa santai, nongkrong dan menikmati tenant lain,” jelas Galih.
Galih juga menegaskan komitmen Hasta Food untuk memfilter dan mempromosikan produk UMKM sekitar agar bisa tumbuh bersama.
“Soto itu makanan khas Indonesia. Mau lahir di mana, pergi sejauh apa pun, lidah nggak pernah bohong. Bahkan orang yang kuliah di luar negeri, yang dikangenin tetap masakan Indonesia. Salah satunya ya soto,” ucap Galih. (**)


