Taj Yasin Dorong Pembentukan Satgas Anti-Kekerasan di Seluruh Pesantren

“Kasus kekerasan sering kali tidak terungkap karena korban takut bicara. Karena itu kami sedang merumuskan kanal aduan khusus yang bisa di akses secara profesional, termasuk lewat layanan telemedis,” ujarnya.

Langkah tersebut, katanya, menjadi respons atas meningkatnya perhatian pemerintah terhadap persoalan kesehatan mental dan kekerasan di kalangan anak dan remaja.

Gus Yasin mengakui, beberapa bulan terakhir Jawa Tengah di hadapkan pada sejumlah kasus tragis. Termasuk bunuh diri yang di duga di picu persoalan psikososial.

Karena itu, ia menilai pesantren perlu menjadi ruang aman yang bukan hanya mendidik secara keilmuan, tetapi juga memberi perlindungan emosional dan psikologis bagi santri.

“Kalau korban tidak berani bicara langsung, setidaknya mereka punya ruang aman untuk menyampaikan. Ini yang sedang kami siapkan,” katanya.

BACA JUGA :  Dapur Umum Dinsos dan Kemensos Siapkan 3.000 Porsi Makanan untuk Korban Banjir Semarang

Beasiswa

Selain aspek perlindungan, Pemprov Jateng juga memperkuat pemberdayaan pesantren melalui beasiswa pendidikan. Saat ini tercatat lebih dari 600 pendaftar dari kalangan kiai, ustaz, ustazah, hingga santri untuk program beasiswa dalam dan luar negeri.

Beasiswa tersebut akan di fasilitasi melalui kerja sama dengan 41 perguruan tinggi dalam negeri. Serta dapat di akses untuk studi ke sejumlah negara seperti Mesir dan Yaman.

“Harapannya setelah selesai studi, mereka kembali khidmah ke pesantren. Ini investasi sumber daya manusia untuk masa depan pesantren Jawa Tengah,” kata Taj Yasin.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi, menegaskan pentingnya perlindungan anak sebagai agenda strategis nasional.